Kamis, 28 Juni 2007

Rahasia Koordinasi Arab Israel Hadapi Hamas

Rahasia Koordinasi antara Arab dan Israel Hadapi Hamas


Shalih An-Naami

Harian Maarev edisi 20 Juni menyatakan, sejumlah negara Arab mengirim deleasi ke Tel Aviv untuk berunding dengan pemerintah koloni Israel soal mekanisme menghadapi perkembangan terkini di Palestina setelah Hamas menguasai Jalur Gaza. Ben Kasbit, reporter penting di harian ini menyatakan kepada harian yang sama edisi Senin pekan ini, peristiwa-peristiwa Gaza memberikan peluang kepada penciptaan hubungan strategi antara Israel dengan negara-negara Arab dan Islam moderat. Ia mengisyaratkan, hubungan itu semakin kuat dilakukan oleh pemimpin negara Arab secara rahasia dengan pimpinan Israel sejak Hamas menguasai Jalur Gaza. Dalam kontak rahasia itu tersimpulkan bahwa negara-negara Arab merasa dalam poros yang sama dengan Israel setelah Hamas menguasai Jalur Gaza.

Dalam konteks yang sama, Jerusalem Post Koran Israel edisi Inggris mengungkap, elit gerakan Fatah belakangan ini meminta kepada pemerintah untuk menghentikan operasi keamanan terhadap kader-kadernya di Tepi Barat untuk tujuan agar mereka bisa menekan aktifis dan pimpinan gerakan Hamas di wilayah yang sama. Harian mengisyaratkan, tuntutan Fatah ini disampaikan kepada Israel melalui pejabat Amerika dan Eropa ketika mereka bertemu pada beberapa pekan lalu. Meski harian ini tidak mengisyaratkan pemerintah Israel sudah merespon positif terhadap tuntutan Fatah ini. Namun mereka menyatakan bahwa aktifis Fatah bersenjata masih mengusir aktifis Hamas di wilayah yang dikuasai oleh Israel secara langsung di Tepi Barat yang disebut wilayah B dan C. Seorang pejabat tinggi di Fatah menyatakan kepada harian Jerusalem Post bahwa Israel harus membantu kami dalam membereskan Hamas di Tepi Barat.

Israel : Konsentrasi Dukung Abbas

Di sisi lain, kementerian luar negeri Israel Tsepi Livni menyataka, tujuan Israel pada saat ini terkonsentrasi mendukung presiden Mahmod Abbas dan mengisolasi Hamas disamping menghapus legalitas ril di Jalur Gaza setelah dikuasai Hamas. Kepada radio Israel edisi Senin, Tsepi Livni mengingatkan bahaya keberhasilan Hamas dalam mengegolkan proyeknya karena dinilai sebagai gerakan memiliki landasan ideology agama radikal. Israel menolak eksistensi Israel yang berkonsentrasi dengan keyakinan-keyakinan agama. Livni menilai, setelah Hamas menguasai Jalur Gaza maka memeranginya semakin mudah sebab dunia internasional lebih yakin bekerja mengisolasi Hamas dan mendukung Abu Mazen. Ia menambahkan, untuk berhasil sampai kepada kesepakatan antara Abbas dan kelompok Palestina moderat harus melalui sejumlah tahap untuk menjamin bahwa negara Palestina masa depan tidak akan berhaluan terorisme.

Harian Israel Haaretz edisi Senin lalu juga menyatakan, Olmert yang kini berkunjung ke Amerika dirinya komitmen dengan melanjutkan untuk memperkuat pasukannya di Tepi Barat untuk membendung peristiwa seperti di Jalur Gaza. Ia menambahkan, Abbas komitmen dengan langkah pasti menghadapi Hamas dan Israel akan bekerjasama dengan pemerintahan Palestina yang menuruti syarat Tim Kwartet.

Kontroversi Israel soal manfaat mendukung Abu Mazen

Namun di Israel masih ada kontroversi manfaat mendukung Abu Mazen dan gerakan Fatah dalam menghadapi Hamas setelah gerakan terakhir ini mampu menguasai Jalur Gaza. Kontroversi ini muncul setelah PM Israel, Ehud Olmert ingin mencairkan pajak milik Palestina kepada Abu Mazen yang ditahanan Israel. Dalam editorial harian Israel Haaretz disebutkan, langkah Olmert bisa didukung dalam hal ini sebab Abu Mazen dianggap sebagai pemimpin Palestina satu-satunya yang memungkinkan buat Israel untuk melakukan kesepakatan-kesepakatan. Bahkan dalam rangka ini Israel harus memberikan bantuan ekonomi, memberikan harapan politik hakiki, menjamin pembekuan permukiman Yahudi, membekukan permukiman yang tidak disiplin. Namun harian in mengingatkan bahwa Israel melakukan kesalahan besar usai kemenangan Hamas dalam pemilu sebab politik yang dianut Israel terhadap Hamas justru makin memantapkan posisi dan popularitas Hamas di mata rakyat Palestina.

Di sisi lain, pemimpin Likud menyatakan bahwa percuma berharap kepada Abu Mazen karena ia pemimpin yang lemah. Netenyahu menilai, harus ada koordinasi dengan Amerika, Mesir, Jordania dalam membatasi bahaya penguasaan Hamas terhadap Jalur Gaza. Sementara Sever Boltsker, pengamat politik di Yediot Aharonot menilai langkah Israel mendukung Abu Mazen adalah ilusi pribadi. Ia menambahkan, Israel melakukan kesalahan besar ketika mendukung Fatah di Tepi Barat sebab ia gerakan lapuk.

Orientalis Dr. Ja Bachor menyatakan, keberadaan Israel di Tepi Barat memberikan kehidupan kepada gerakan nasional Palestina, jika kita keluar dari sana maka sudah selesai masalah Palestina dan kelompok Islam akan menguasai Tepi Barat juga. Menurutnya, ini adalah satu-satunya dalam sejarah yang pernah terjadi. (atb)

Tidak ada komentar: