Sabtu, 30 Juni 2007

Tabarruj

TABARRUJ

Pembahasan wanita selalu menarik baik ditinjau dari segi manapun, karena wanita itu sendiri bersifat sebagai perhiasan kehidupan. (1) Perhiasan buruk atau baik akan mampu menarik mangsa untuk menikmatinya. Perhiasan ini selanjutnya dijadikan alat untuk mencapai tujuan-tujuan strategis. Tidak sedikit perhiasan ini difungsikan bersamaan dengan pengumbaran hawa nafsu. Karena itulah wanita berada pada posisi yang rawan. Mereka akan dilirik untuk dipropagandakan. Dengan demikian keberadaannya tergantung pada yang menguasainya, dan juga diwarnai oleh lingkungan tempat dia berada. Pada kondisi sekarang ini, wanita berada pada lingkungan atau sistem yang tidak kondusif untuk pembentukan kepribadian yang sholihah.

Perubahan sistem dari kondisi yang dholim ini kelak bisa mengantarkan terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang islami, yang kemudian mampu melahirkan wanita-wanita yang sholihah. Tetapi selama perubahan sistem tidak terjadi, maka yang terjadi adalah banyaknya wanita Islam yang hanya mengambil sebagian hukum yang menguntungkan dirinya dan menolak untuk melaksanakan hukum-hukum yang tidak menguntungkan mereka. Dari situlah lahir wanita-wanita yang memamerkan perhiasannya secara mutlak, hingga menimbulkan birahi bagi yang memandangnya, dan sekaligus bisa menimbulkan kecemburuan sosial. Dan pada akhirnya timbul masyarakat non islami, yang tatanan interaksi di dalamnya rusak, sehingga mengalami banyak problema yang penyelesaiannya justru menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu untuk membentuk masyarakat yang islami harus mengubah sistem secara total karena sistem inilah yang menjadi dasar pemicu lahirnya masyarakat jahiliyah modern ini.

SECARA UMUM ALLAH MEMBOLEHKAN PERHIASAN

Pada ayat 26, 31 dan 32 dalam surat Al A'raf, Allah SWT berfirman sebagai berikut,

"Hai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu, begitu pula pakaian perhiasan. Tetapi pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah supaya mereka selalu ingat." (26)

"Hai keturunan Adam, pakailah perhiasanmu pada setiap sembahyang..." (31)

"Katakanlah : 'Siapakah yang mengharamkan (memakai) perhiasan Allah yang dikeluarkan untuk hamba-hambaNya dan rizqi (makanan) yang baik?' Katakanlah : 'Semuanya itu untuk orang-orang yang beriman saat hidup di dunia dan khusus untuk mereka pada hari kiamat.'" (32)

Dari ayat-ayat di atas bisa diketahui bahwa pakaian ada dua macam :

  1. Pakaian yang menutup aurat. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia, sehingga manusia bisa terlindungi dari bahaya alam dan manusia, seperti kedinginan, panas dan rasa malu. (2)
  2. Pakaian yang berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini bukan kebutuhan mendasar, namun hanya kebutuhan sekunder dan sebagai penyempurna saja. (3)

Sedangkan pada ayat kedua, Ibnu Katsir berpendapat bahwa disunnahkan pada setiap sholat untuk berhias sebaik-baiknya. (4)

Dari sini bisa diketahui bahwa Islam sangat sesuai dengan fitrah / naluri manusia yang secara universal adalah makhluk yang menyukai keindahan dan kebersihan. Bahkan ukuran standart masyarakat terhadap seseorang biasanya dinilai dari perilakunya terhadap keindahan dan kebersihannya, meskipun penilaian itu tidak benar. Demikian pula wanita, dia selalu suka dengan hal-hal yang indah dan serasi. Biasanya wanita selalu memilih warna pakaian yang cocok dengan kulitnya. Inilah yang disebut naluriah alami.

DEFINISI TABARRUJ

Tabarruj diambil dari QS. Al Ahzab ayat 33, yang merupakan akar kata : [_______] yang artinya menampakkan perhiasan dan keindahan pada orang lain. (5) Sedangkan pendapat para ulama dalam mendefinisikannya berbeda-beda. (6) Al Mujahid berkata, Tabarruj adalah keluarnya wanita dan berjalannya di hadapan banyak laki-laki. Sedangkan Qotadah berkata bahwa tabarruj adalah jalannya wanita yang genit serta membuat-buat jalannya supaya tampak baik. Al Fara' berkata bahwa pakaian yang tipis dan membentuk tubuh (mensifati lekuk-lekuk tubuh) inilah yang disebut tabarruj. Taqiyuddin berkata, tabarruj adalah setiap perhiasan yang tidak biasa yang membuat laki-laki selalu memandangnya, dan perhiasan itu menampakkan keindahan-keindahan wanita. (7)

Dari definisi-definisi di atas, mengandung unsur-unsur yang tidak bertentangan, oleh sebab itu bisa digabung tentang makna tabarruj sebagai berikut :

Tabarruj yaitu penampakan perhiasan wanita yang diharamkan oleh Allah, dengan demikian penampakan keindahan-keindahan dari perhiasan tersebut jelas akan menjadi haram pula.

PENJELASAN DEFINISI TABARRUJ

Dari makna definisi di atas ada hal-hal yang bisa diketahui tentang penampakkan yang diharamkan dari keindahan-keindahan perhiasan :

  1. Perhiasan yang diharamkan oleh Allah pada wanita berdasarkan QS An Nuur : 31. Pada ayat tersebut dijelaskan supaya wanita tidak menampakkan semua perhiasan kecuali yang biasa nampak (tangan dan wajah).

    Menurut Asy Syafi'iyah : az zinah (perhiasan) ada dua :

    1. perhiasan dalam arti tubuh wanita
    2. perhiasan yang dibuat manusia, seperti anting-anting, kalung, pakaian dan lain-lain.

    Jadi seluruh tubuh wanita sebagai perhiasan yang harus ditutup, termasuk juga perhiasan yang dibuat manusia yang menurut estetikanya berada pada selain wajah dan tangan (dimulai dari pergelangan tangan) seperti leher dan telinga. Wanita yang memakai perhiasan seperti gelang, cincin dan arloji selama tidak berlebihan, boleh hukumnya. Penggunaan cat kuku, pacar untuk pewarna kuku, pewarna wajah, celak untuk mata hukumnya juga boleh, karena perhiasan-perhiasan tersebut berada pada daerah yang diperbolehkan untuk tidak ditutup.

    Diriwayatkan dari Bakiyah, dia berkata, bahwa saya mendengar Aisyah berkata,

    "Bahwa Rasulullah SAW tidak suka pada perempuan yang di tangannya tidak ada cat pewarna (pacar)." (8)

  2. Keindahan
  • Keindahan-keindahan yang berasal dari perhiasan yang diharamkan Allah, seperti pakaian yang mensifati lekuk tubuh wanita atau pakaian yang tipis, atau berpakaian namun masih terlihat leher dan rambutnya.
  • Keindahan-keindahan yang berasal dari perhiasan yang diperbolehkan oleh Allah, namun karena berlebihan (terlalu mencolok), sehingga menimbulkan birahi dan juga menimbulkan kecemburuan sosial, maka hal ini juga termasuk dalam kategori tabarruj dan hukumnya haram, seperti : lipstik, pemerah pipi yang mengandung syahwat parfum yang membangkitkan birahi, dan lain-lain.

Sedangkan lipstik untuk sekedar supaya tidak terlihat lusuh, dan parfum supaya menghilangkan bau badan maka hukumnya tidak termasuk tabarruj.

Rasulullah SAW bersabda,

"Sesungguhnya parfum laki-laki adalah yang keras baunya namun warnanya lemah, sedangkan parfum wanita adalah yang keras warnanya dan lemah baunya." (HR Tirmidzi dan Nasa'i) (9)

Sedangkan hadits yang mengatakan jika perempuan berparfum dan lewat di majelis laki-laki adalah seperti pelacur, yang dimaksud hadits ini adalah parfum yang berlebihan dengan maksud supaya laki-laki tertarik padanya.

Jadi ada dua lafadz yang harus dipahami, yaitu tabarruj (etika berhias) dan zinah (perhiasannya). Selama Allah tidak mengharamkan perhiasan maka hukumnya boleh, namun bagaimana menggunakan perhiasan tersebut (etika berhias) ada aturan-aturan tersendiri. Untuk wanita terdapat aturan QS An Nuur : 31. Jika aktivitas berhias wanita ini bertentangan dengan aturan Allah, berarti dia telah menggunakan etika berhiasnya orang-orang jahiliyah (bodoh). Oleh karena itu wanita dilarang berhias seperti orang-orang jahiliyah (bodoh), sebagaimana dalam firman Allah QS Al Ahzab : 33. Sedangkan etika berhias untuk laki-laki agak dibebaskan oleh Allah. Laki-laki bebas berpakaian dan menggunakan perhiasan apa saja, seperti pakaian ketat, selama itu masih menutup aurat antara pusar sampai lutut. Namun untuk emas dan sutera diharamkan pemakaiannya, (10) dan ada juga sebagian ulama yang memakruhkannya.

Tiga ayat dalam QS Al A'raf adalah berbicara tentang perhiasan, sedangkan QS An Nuur : 31 adalah cara penggunaan perhiasan pada manusia, khususnya wanita. Jadi hukum tabarruj hanya berlaku bagi wanita.

PERNIKAHAN (WALIMAH) YANG ISLAMI

Setelah mengetahui makna tabarruj, maka hal-hal yang berkaitan dengan tabarruj hukumnya haram. Seperti kebanyakan masyarakat sekarang yang mengadakan resepsi pernikahan atau dalam acara yang lain masih sering bertabarruj. Misalnya dengan pakaian pengantin yang memperlihatkan aurat wanita, lipstik, pewarna wajah yang berlebihan, sehingga menimbulkan keinginan orang-orang untuk melihatnya. Agar terhindar dari tabarruj, seharusnya tempat pelaminan wanita diletakkan pada posisi yang hanya wanita saja yang bisa melihatnya. Jika demikian adanya maka bebas menggunakan perhiasan dengan tetap berprinsip tidak berlebihan, sebab tabarruj tidak terjadi karena dua hal :

  1. Pada kehidupan khosh (khusus) ; seperti di rumah, boleh berhias sekehendak hati.
  2. Pada sesama wanita dengan tetap berprinsip tidak berlebihan.

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian sendiri."

Surabaya, 1 Maret 1996 / 11 Syawal 1416

Qismu Dakwah Yayasan Al Haromain

Catatan Kaki :

  1. QS Ali Imran : 14. Menurut Ibnu Katsir, perhiasan berupa wanita dikarenakan oleh fitnah yang disebabkan wanita lebih berbahaya
  2. Ibnu Katsir, Juz II, Hal. 12
  3. Ibid., hal. 12
  4. Ibid., hal. 15
  5. Ibrahim Anis, Mu'zam Al Wasith, juz I, hal. 46
  6. Ibnu Al Jauzy, Ahkamun Nisa', hal. 122
  7. Taqiyuddin An Nabhani, Nidhom Al Ijtima', hal. 104
  8. Ibid., hal 164
  9. Ibrahim Muham Jamal, Fiqh Al Mar'ah Al Muslimah, hal. 73
  10. Yusuf Qordhowi, Al Halal wal Haram fil Islam, hal. 80

Hikmah Air Dalam Olah jiwa

Hikmah Air dalam Olah Jiwa

Bercermin dari Masaru Emoto : "The True Power Of Water"

Resensi Oleh : Redaksi 23 Aug 2006 - 3:58 pm

Oleh: Kartika Pemilia Lestari *)

Peneliti Jepang, Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air sanggup membawa pesan dan informasi positif. Sudah banyak "ayat-ayat" Allah ditunjukkan, tapi kita jarang mensyukurinya

Orang yang belum mengerti hakikat dan karakteristik air sering mengira bahwa pengobatan alternative dengan cara meminum air yang telah diberi doa sebelumnya, merupakan suatu cara yang tidak ilmiah. Karena itu maka "layak" disebut sebagai cara yang tidak rasional. Namun, seorang peneliti Jepang terkenal, Dr. Masaru Emoto berhasil membuktikan bahwa air sanggup membawa pesan atau informasi dari apa yang diberikan kepadanya. Bahkan air yang diberi respon positif, termasuk doa, akan menghasilkan bentuk kristal heksagonal yang indah.

Hasil penelitian Masaru Emoto yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia "The True Power Of Water" [Hikmah Air dalam Olahjiwa], (MQS Publishing, 2006), merupakan pengalaman menakjubkan karena membuktikan bahwa air ternyata “hidup” dan dapat merespon apa yang disampaikan manusia.

Temuan Masaru memrupakan hasil kerja kerasnya sebagai wujud kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Ia bahkan melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin dan Prancis.

Temuannya itu kemudian ia bawa ke markas Besar PBB di New York bulan Maret 2005 lalu.

Dr. Masaru Emoto melakukan penelitian selama 2 bulan bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ahli sains yang mahir menggunakan mikroskop). Masaru yang menyelesaikan pendidikannya di Yokohama Municipal University Departemen Kemanusiaan dan Sains jurusan Hubungan Internasional berhasil mendapatkan foto kristal air dengan membekukan air pada suhu -25 derajat Celsius dan menggunakan alat foto berkecepatan tinggi. Lalu ditelitilah air dengan menggunakan respon kata-kata, gambar, serta suara. Hasilnya luar biasa, sebagaimana yang sudah dibaca banyak orang. Air, katanya, bisa menerima pesan.

Bahkan dalam bukunya yang lain, "The Hidden Message in Water", Masaru mengatakan, air seperti pita magnetik atau compact disk.

Kata-Kata

Air mengenali kata tidak hanya sebagai sebuah desain sederhana, tetapi air dapat memahami makna kata tersebut. Saat air sadar bahwa kata yang diperlihatkan membawa informasi yang baik maka air akan membentuk kristal. Jika kata positif yang diberikan, maka kristal yang terbentuk akan merekah luar biasa laksana bunga yang sedang mekar penuh, seakan ingin menggambarkan gerakan tangan air yang sedang mengekspresikan kenikmatannya.

Sebaliknya, jika kata-kata negative yang diberikan, maka akan menghasilkan pecahan kristal dengan ukuran yang tidak seimbang. Mungkin juga air dapat merasakan perasaan orang yang menulis kata tersebut. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika air diberi kumpulan kata yang merupakan doa?
Subhanallah, kekuatan air yang sudah menerima kata-kata itu, terutama untuk penyembuhan tentu sangat besar. Apalagi kumpulan kata yang merupakan doa tersebut bukan kata-kata biasa, tapi berasal dari Allah SWT dan diucapkan oleh orang shaleh pilihan Allah SWT.

Dr. Masaru sendiri menggunakan kekuatan air untuk pengobatan dengan menemukan efek gelombang energi yang dia sebut sebagai HADO (energi atau kumpulan getaran yang ada pada sebuah benda). Lalu dengan HADO inilah Dr.Masaru bisa memformat efek energi air untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pengobatan dengan HADO ini merupakan salah satu cara pengobatan alternative.

Menurut Masaru, banyak peneliti saat ini mulai mempelajari berbagai pengobatan alternative karena merasakan beberapa kekurangan dalam obat konvensional Barat, yang hanya mampu mencapai level sel yang menyebabkan gejala penyakit. Sedang air HADO mampu mengobati penyakit hingga ke dalam partikel sub atom terkecil. Sudah ada beberapa pasien Dr.Masaru yang sembuh setelah meminum air HADO.

Penerima Informasi

Berdasarkan penelitian Dr.Masaru, semakin jelas terlihat bahwa kualitas air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung pada informasi yang diterimanya. Hal ini membuat kita yakin bahwa kita, manusia, juga dipengaruhi oleh informasi yang kita terima karena 70% tubuh manusia dewasa adalah air.

Konsekuensi logisnya adalah manusia, sebagai makhluk yang sebagian besarnya terbentuk dari air, sudah seharusnya diberikan informasi yang baik. Jika kita melakukan hal ini, pikiran dan tubuh kita akan menjadi sehat. Di pihak lain, jika kita menerima informasi yang buruk, kita akan merasakan sakit.

Ambil contoh begini; Sebagian orang mengatakan bahwa mereka merasa lebih baik hanya dengan berbicara kepada dokter. "Efek placebo" ikut berperan saat dokter yang mereka percayai berkata, "ini cuma flu biasa, Anda hanya perlu banyak istirahat. Jangan khawatir, Anda akan segera sembuh."

Dengan mendengarkan kata-kata dokter tersebut, rasa cemas dan takut dalam diri mereka benar-benar hilang. Kata-kata tersebut membangunkan kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri, yang memang sudah ada dalam tubuh manusia.

Pada zaman dahulu seorang dokter adalah orang yang juga ahli dalam bidang agama, seperti pendeta atau tabib sehingga dia tidak hanya memberikan solusi secara konvensional, namun sekaligus memberikan "efek placebo" lewat kata-kata positif berupa doa atau motivasi yang sarat nilai spiritual.

Hal ini juga berlaku bagi konselor yang harus mempunyai kemampuan untuk mengirim gelombang yang baik agar bentuk gelombang abnormal pada pasien dapat diperbaiki.
Efek kata-kata juga bisa menimbulkan perilaku negative. Orang acapkali melakukan bunuh diri setelah membaca informasi tentang materi bunuh diri. Sekitar dua puluh tahun lalu seorang idola remaja di Jepang melakukan bunuh diri. Dengan cepat berita tersebut menyebar, banyak remaja-remaja lain mengikuti jejaknya. Kejadian tentang hantu pembunuh di Jepang juga mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Nikmat yang mana lagi?

Mari kita ingat kembali bahwa air yang diberikan kata-kata positif akan menyusun kristal-kristal yang indah. Air mempersembahkan kepada kita makna yang mengagumkan bahwa kita seharusnya menjalani hidup dengan cara yang baik, serta tetap menjaga kesehatan pikiran dan tubuh kita serta berikankata-kata yang positif (informasi) yang baik kepada manusia, yang 70% tubuhnya adalah air.
Sungguh kita tidak akan mampu menghitung nikmat Allah SWT yang diwujudkan-Nya berupa air.

"Allah-lah yang telah mMenciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia Mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah Menundukkan (pula) bagimu supaya behtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah Menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." (QS. Ibrahim : 32).

Sebagai penutup, dalam sebuah karya ilmiah yang ditulis Dr. Akiko Sugara dari Jurusan Ilmu Kesehatan Universitas Tokyo tentang HADO dalam makanan membuktikan efek buruk daging babi pada orang yang memakannya.

Bersandar pada Dr. Masaru Emoto dan Dr. Akiko Sugara kita dapat memahami betapa luar biasa yang diberikan Allah kepada manusia, meski terkadang otak kita tidak sampai kepadanya. Pertanyaanya, lalu nikmat yang mana selain kita senantiasa bersyukur kepadaNya? (Hidayatullah.com)

Wallahu'alam bishshawwab

*) Penulis lulusan FISIP Unair

Sumber: www.swaramuslim.net

Kamis, 28 Juni 2007

Rahasia Koordinasi Arab Israel Hadapi Hamas

Rahasia Koordinasi antara Arab dan Israel Hadapi Hamas


Shalih An-Naami

Harian Maarev edisi 20 Juni menyatakan, sejumlah negara Arab mengirim deleasi ke Tel Aviv untuk berunding dengan pemerintah koloni Israel soal mekanisme menghadapi perkembangan terkini di Palestina setelah Hamas menguasai Jalur Gaza. Ben Kasbit, reporter penting di harian ini menyatakan kepada harian yang sama edisi Senin pekan ini, peristiwa-peristiwa Gaza memberikan peluang kepada penciptaan hubungan strategi antara Israel dengan negara-negara Arab dan Islam moderat. Ia mengisyaratkan, hubungan itu semakin kuat dilakukan oleh pemimpin negara Arab secara rahasia dengan pimpinan Israel sejak Hamas menguasai Jalur Gaza. Dalam kontak rahasia itu tersimpulkan bahwa negara-negara Arab merasa dalam poros yang sama dengan Israel setelah Hamas menguasai Jalur Gaza.

Dalam konteks yang sama, Jerusalem Post Koran Israel edisi Inggris mengungkap, elit gerakan Fatah belakangan ini meminta kepada pemerintah untuk menghentikan operasi keamanan terhadap kader-kadernya di Tepi Barat untuk tujuan agar mereka bisa menekan aktifis dan pimpinan gerakan Hamas di wilayah yang sama. Harian mengisyaratkan, tuntutan Fatah ini disampaikan kepada Israel melalui pejabat Amerika dan Eropa ketika mereka bertemu pada beberapa pekan lalu. Meski harian ini tidak mengisyaratkan pemerintah Israel sudah merespon positif terhadap tuntutan Fatah ini. Namun mereka menyatakan bahwa aktifis Fatah bersenjata masih mengusir aktifis Hamas di wilayah yang dikuasai oleh Israel secara langsung di Tepi Barat yang disebut wilayah B dan C. Seorang pejabat tinggi di Fatah menyatakan kepada harian Jerusalem Post bahwa Israel harus membantu kami dalam membereskan Hamas di Tepi Barat.

Israel : Konsentrasi Dukung Abbas

Di sisi lain, kementerian luar negeri Israel Tsepi Livni menyataka, tujuan Israel pada saat ini terkonsentrasi mendukung presiden Mahmod Abbas dan mengisolasi Hamas disamping menghapus legalitas ril di Jalur Gaza setelah dikuasai Hamas. Kepada radio Israel edisi Senin, Tsepi Livni mengingatkan bahaya keberhasilan Hamas dalam mengegolkan proyeknya karena dinilai sebagai gerakan memiliki landasan ideology agama radikal. Israel menolak eksistensi Israel yang berkonsentrasi dengan keyakinan-keyakinan agama. Livni menilai, setelah Hamas menguasai Jalur Gaza maka memeranginya semakin mudah sebab dunia internasional lebih yakin bekerja mengisolasi Hamas dan mendukung Abu Mazen. Ia menambahkan, untuk berhasil sampai kepada kesepakatan antara Abbas dan kelompok Palestina moderat harus melalui sejumlah tahap untuk menjamin bahwa negara Palestina masa depan tidak akan berhaluan terorisme.

Harian Israel Haaretz edisi Senin lalu juga menyatakan, Olmert yang kini berkunjung ke Amerika dirinya komitmen dengan melanjutkan untuk memperkuat pasukannya di Tepi Barat untuk membendung peristiwa seperti di Jalur Gaza. Ia menambahkan, Abbas komitmen dengan langkah pasti menghadapi Hamas dan Israel akan bekerjasama dengan pemerintahan Palestina yang menuruti syarat Tim Kwartet.

Kontroversi Israel soal manfaat mendukung Abu Mazen

Namun di Israel masih ada kontroversi manfaat mendukung Abu Mazen dan gerakan Fatah dalam menghadapi Hamas setelah gerakan terakhir ini mampu menguasai Jalur Gaza. Kontroversi ini muncul setelah PM Israel, Ehud Olmert ingin mencairkan pajak milik Palestina kepada Abu Mazen yang ditahanan Israel. Dalam editorial harian Israel Haaretz disebutkan, langkah Olmert bisa didukung dalam hal ini sebab Abu Mazen dianggap sebagai pemimpin Palestina satu-satunya yang memungkinkan buat Israel untuk melakukan kesepakatan-kesepakatan. Bahkan dalam rangka ini Israel harus memberikan bantuan ekonomi, memberikan harapan politik hakiki, menjamin pembekuan permukiman Yahudi, membekukan permukiman yang tidak disiplin. Namun harian in mengingatkan bahwa Israel melakukan kesalahan besar usai kemenangan Hamas dalam pemilu sebab politik yang dianut Israel terhadap Hamas justru makin memantapkan posisi dan popularitas Hamas di mata rakyat Palestina.

Di sisi lain, pemimpin Likud menyatakan bahwa percuma berharap kepada Abu Mazen karena ia pemimpin yang lemah. Netenyahu menilai, harus ada koordinasi dengan Amerika, Mesir, Jordania dalam membatasi bahaya penguasaan Hamas terhadap Jalur Gaza. Sementara Sever Boltsker, pengamat politik di Yediot Aharonot menilai langkah Israel mendukung Abu Mazen adalah ilusi pribadi. Ia menambahkan, Israel melakukan kesalahan besar ketika mendukung Fatah di Tepi Barat sebab ia gerakan lapuk.

Orientalis Dr. Ja Bachor menyatakan, keberadaan Israel di Tepi Barat memberikan kehidupan kepada gerakan nasional Palestina, jika kita keluar dari sana maka sudah selesai masalah Palestina dan kelompok Islam akan menguasai Tepi Barat juga. Menurutnya, ini adalah satu-satunya dalam sejarah yang pernah terjadi. (atb)

Prediksi Perkembangan Palestina

Prediksi Perkembangan di Palestina

Yaser Za’atirah

(Harian Ad-Dustur, Jordania)

Tak pernah sedetikpun Amerika ragu-ragu dalam menentukan sikapnya terhadap peristiwa yang berlangsung di Jalur Gaza. Washington sudah mengumumkan secara resmi kekhawatiran mereka atas “demokrasi sesungguhnya” – terminology baru yang didengungkan oleh kelompok Neo Konservatif di Amerika – di latar Palestina. Setelah pertempuran berlangsung sengit, negara Paman Sam mengumumkan dukungannya secara penuh terhadap legalitas Presiden Palestina dan langkah-langkah yang ditempuh; terutama pembentukan pemerintahan darurat dengan dipimpin oleh PM Salam Fayyadl.

Perlu diingat, kelompok Neo Konservatif beberapa bulan lalu menetapkan rencana Dayton untuk mendukung kelompok moderat di Palestina. Rencana ini memang didisain untuk membalik perimbangan dan mengembalikan situasi seperti sebelum pemilu legislatif Palestina.

Kini Amerika memulai dukungannya kepada pemerintah darurat bentukan Abu Mazen bersama Uni Eropa. Sementara Israel mengumumkan membebaskan pajak Palestina yang selama ini ditahan dan dibekukan. Tinggal sarana dukungan lain (menghilangkan perlintasan dan membebaskan tahanan) yang akan terjadi dalam pekan-pekan mendatang.

Di level politik, Olmert meyakini bahwa ranah politik sudah terbuka setelah perkembangan terbaru dan partner Palestina sudah ada di Ramallah. Inilah yang memunculkan pertanyaan amat penting soal rute politik mendatang, kemana arahnya? Dengan sama-sama kita ketahui bahwa Israel tidak memiliki apa-apa selain rute negara sementara, yakni; menerapkan apa yang terjadi di Jalur Gaza dari yang tersisa di Tepi Barat berupa tembok pemisah. Hasilnya adalah negara sementara di Tepi Barat yang memiliki akar konflik perbatasan dengan Israel.

Elit pemerintahan otoritas tidak ada yang menghalanginya untuk menerapkan rencana ini. Terlepas dari sejumlah statemen yang menolak gagasan negara sementara. Sebab penolakan politik adalah sesuatu dan menyetujuinya secara ril terhadap penarikan pasukan Israel dari belakang tembok dan menerima tugas keamanan adalah sesuatu yang lain.

Pertanyaan tinggal tentang situasi di Jalur Gaza. Di sini agaknya sikap yang ada tidak pasti dan tidak jelas bagi semua pihak. Sebab mereka akan berpegang dengan sejumlah perkembangan dan sikap-sikap pihak tertentu. Mungkin yang paling menonjol adalah sikap Amerika dan Israel. Kemudian sikap pemerintah Palestina sendiri. Disamping sikap Arab secara umum dan Mesir secara khusus. Jika upaya Arab dalam menemukan jalan tengah antara kedua pihak ini, maka yang terjadi adalah pembubaran parlemen Palestina oleh presiden Palestina dengan dukungan Amerika dan menilai situasi di Jalur Gaza sebagai berstatus aneh untuk direformasi.

Lupakan bicara soal undang-undang dasar dan konstitusi sebab kita tidak berada di Swiss. Sementara game pemiskinan dan pelaparan manusia dan penambahan beban derita kepada mereka adalah dalam rangka menyingkirkan Hamas, agaknya tidak akan berlalu dengan mudah dalam urusan Palestina dan Arab karena akan berdampak pada masalah politik. Apalagi kemungkinan meningkatnya kecenderungan Hamas memilih alternatif kekuatan senjata jika dipaksa terus melakukan hal itu.

Semua itu tidak mengubah hakikat krisis yang mendera semua pihak terutama pihak Israel yang mengalami krisis keguncangan politik yang akut. Krisis yang mendorong negara penjajah ini untuk melakukan pilihan serangan militer ke Jalur Gaza sebagai sikap tegasnya terhadap kepemimpinan Islam yang tumbuh di sana. Ini tampaknya menarik bagi Ehud Barak yang akan menjadi ketua Partai Buruh yang berambisi memimpin negara Israel kembali. Apalagi mengembalikan Jalur Gaza ke pangkuan pemerintahan otoritas Palestina akan menciptakan partner lemah yang terbelenggu. Apalagi tidak ada pilihan di hadapannya kecuali hanya rute negara sementara.

Dimensi lain yang tidak kalah pentingnya dan yang akan berpengaruh kepada kondisi regional sepenuhnya yaitu masalah penyikapan terhadap masalah nuklir Iran di tengah prediksi serangan Israel yang didukung oleh Amerika, dari pada Amerika sendiri memulai menginvasi Iran. Dari sanalah Iran akan membalas menyerang.

Jadi kawasan regional Timteng penuh dengan kandungan perkembangan dan politik chaos hanya akan mengakibatkan kegagalan bagi Washington dan Tel Aviv. Namun siapa yang akan berani bertaruh? Waktu yang akan membuktikannya. (atb)

Senin, 25 Juni 2007

Shalahuddin al Ayyubi

Keteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Selasa, 15 Mei 2007

Bermula dari perebutan wilayah Palestina, peperangan pasukan Kristen-Islam berlangsung sekitar 174 tahun. Bagaimana akhlaq Islam dari peristiwa ini?

Hidayatullah.com--“Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”

Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton and London: 1991).

Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.

Sepak Terjang Tentara Salib

Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.

Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.

Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.

Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.

Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)

Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.

Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).

Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.

Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. .

Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi

Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara asalnya.

Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.

Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.

Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.

Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.

Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.

Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.

Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.

Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).

Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks--bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.

Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard “Si Hati Singa” (the Lion Heart).

Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.

Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.

Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.

***

Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).

Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.

Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.

Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII (1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan emas yang sangat banyak untuk menebusnya.

Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.

Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.* [Agung Pribadi, Pambudi. Dikutip dari Majalah Hidayatullah/www.hidayatullah.com]

Kritik Terhadap Abu Zayd

”Telah Terbit, Buku Kritik terhadap Abu Zayd” Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 12 Mei 2007

Buku ”Al-Quran Dihujat” mengulas si penghujat Al-Quran garda depan, Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-194

Oleh: Adian Husaini

Bulan Mei 2007 ini, peneliti INSISTS, Henri Shalahuddin MA telah menerbitkan sebuah buku berjudul “Al-Quran Dihujat” (Jakarta: GIP). Buku ini sangat penting dalam perspektif kajian pemikiran Islam di Indonesia saat ini. Secara umum, buku ini berisi kritik terhadap pemikiran Prof. Nasr Hamid Abu Zayd, pakar sastra Arab Mesir yang terkenal dengan teorinya bahwa Al-Quran adalah produk budaya Arab. Dari isi dan literatur rujukannya, tampak buku ini dipersiapkan cukup serius. Berbagai karya Abu Zayd ditelaah dan diberikan kritiknya.

Abu Zayd memang telah divonis murtad oleh Mahkamah di Mesir, dan kemudian lari ke Belanda. Di negara kolonial inilah, Abu Zayd diberi tempat terhormat sebagai guru besar ilmu Al-Quran di Universitas Leiden. Dari sini pula Abu Zayd mengkader lusinan dosen UIN/IAIN untuk menyebarkan pahamnya di Indonesia.

Karena itu, tidak heran, jika hasil penelitian Litbang Departemen Agama tentang paham Liberal keagamaan di sekitar kampus UIN Yogya menyatakan, bahwa bagi kaum liberal: ”Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman.”

Buku-buku Abu Zayd memang sudah banyak yang diterjemahkan di Indonesia. Dalam salah satu buku terjemahan karya Abu Zayd berjudul ”Hermeneutika Inklusif” terbitan ICIP, Nash Hamid Abu Zayd dimasukkan ke dalam ketegori ”pemikir pemberontak” (dissident Muslim thinkers). Tetapi, ditulis di sini, bahwa ”Julukan pemikir pemberontak ini tidak dimaksudkan sebagai julukan yang negatif, akan tetapi ditujukan untuk menamai sebagian kelompok pemikir Islam yang memiliki pemikiran terobosan dan cenderung melakukan reformasi terhadap status quo pemikiran Islam. Corak pemikiran seperti itu, tidak hanya dibutuhkan pada masa transisi, akan tetapi juga sangat dibutuhkan pada masa stabil.”

Itulah penghormatan terhadap Abu Zayd yang dilakukan oleh sebuah lembaga penyebar paham Pluralisme Agama pimpinan Dr. Syafii Anwar tersebut. Salah satu pemuja Abu Zayd yang terkenal adalah Rektor Uin Yogya, Prof. Dr. Amin Abdullah. Itu bisa dilihat dalam bukunya yang berjudul ”Islamic Studies di Perguruan Tinggi” (2006). Kini, berbagai kampus di Indonesia memang sudah mulai dijejali dengan pemuja Abu Zayd. Bahkan, pendapat-pendapatnya sudah mulai diekspose melalui media massa.

Sejumlah murid kesayangan Abu Zayd pun sudah menduduki pos-pos terhormat sebagai dosen-dosen ilmu Al-Quran di UIN Jakarta dan UIN Yogya. Mereka leluasa mendiktekan pemikirannya kepada para mahasiswa, dan bahkan berwenang menyusun kurikulum dalam studi Al-Quran yang sejalan dengan pemikiran Abu Zayd. Kaum Muslimin di Indonesia, banyak yang tidak menyadari masalah besar ini dan membiarkan anak-anaknya dicekoki paham Abu Zayd.

Penulis buku ini, Henri Shalahuddin, yang merupakan alumnus pesantren Gontor Ponorogo dan kini aktif sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir Jakarta, berhasil membongkar kekeliruan pemikiran Abu Zayd dan menyimpulkan, bahwa yang dilakukan Abu Zayd beserta para pemujanya di lingkungan UIN/IAIN lebih merupakan hujatan terhadap Al-Quran, bukan merupakan kajian ilmiah yang ikhlas dan serius. Karena itulah, dia tidak ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa apa yang dilakukan Abu Zayd dan para pemujanya adalah sebuah upaya mengujat dan merusak Al-Quran.

Menurut penulis buku ini, dewasa ini, Al-Quran dihujat tidak hanya secara fisik, tapi juga melalui penyelewengan konsep wahyu dan metodologi tafsir. Penghujatan Al-Quran yang saat ini marak dilakukan bukan dengan membuang mushaf ke toilet, atau menginjak dan membakarnya di depan kaum Muslimin. Penghujatan Al-Quran non-fisik, dilakukan dengan menggunakan ‘metode ilmiah’ yang tidak mudah dipahami dan disadari oleh kebanyakan kaum Muslimin. Sebab, banyak di antara pelakunya adalah cendekiawan dengan titel professor, doktor maupun rektor, sehingga banyak yang kemungkinan mudah tertipu dan menyangkanya sebagai suatu kebenaran ilmiah.

Dan Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd adalah salah satu garda terdepan penghujat Al-Quran saat ini. Tokoh liberal kenamaan asal Mesir ini kabur dari negaranya, setelah pengajuan kepangkatan gelar proffesor ditolak, karya-karyanya dinilai tidak bermutu dan bahkan cenderung melecehkan ajaran Islam, Rasulullah saw dan Imam Syafii. Menyusul setelah itu, vonis mahkamah yang memutuskan bahwa dirinya telah murtad. Dia pun kabur ke Belanda dan di sana memperoleh penghargaan layaknya seorang pahlawan.

Di samping memandang Al-Quran sebagai produk budaya, Abu Zayd juga memposisikan Al-Quran sebatas teks manusiawi (nash insani), teks linguistik (nass lughawi) dan fenomena sejarah (zhahirah tarikhiyyah). Sebagai teks linguistik, misalnya, Abu Zayd mengklaim bahwa Al-Quran terpengaruh oleh tradisi dan budaya Arab pra-Islam. Sebab baginya, dengan menggunakan bahasa Arab, berarti wahyu tidak turun ditempat yg hampa. Ibarat kata pepatah, bahwa bahasa menunjukkan budaya, maka demikian halnya dengan Al-Quran.

Sebagai teks manusiawi, kata dia, kebenaran Al-Quran yang bersifat mutlak hanya berada di lauhul mahfuzh. Namun kebenaran yang mutlak tersebut menjadi relatif ketika masuk dan berinteraksi dengan akal pikiran manusia. Dengan demikian, seorang Muslim tidak boleh mengklaim bahwa pemahamannya terhadap Al-Quran lebih benar dari orang lain, atau bahwa pemahamannya sudah sesuai dengan apa yang dimaui oleh Tuhan. Karena manusia adalah relatif, maka kebenaran yang dicapainya pun juga relatif. Sehingga Abu Zayd mengkategorikan orang yang mengatakan bahwa kebenaran Al-Quran yang dia pahami adalah absolut, berarti telah menyamakan dirinya dengan Tuhan.

Ide Abu Zayd tentang teks manusiawi ini, --di samping ide-idenya yang lain--, banyak diminati dan dipropagandakan oleh para tokoh-tokoh Islam yang menganut pada paham relativisme kebenaran. Sebuah paham yang mendasari aliran-aliran liberalisme, sekularisme, feminisme dan pluralisme agama.

Sebagai teks manusiawi dan teks linguistik sekaligus, Abu Zayd mendudukkan Al-Quran sama seperti Bibel yang semua isi ajarannya tidak harus diterapkan. ”According to Christian doctrine, not everything that Jesus said was said as the Son of God. Sometimes Jesus behaved just as a man.” (Abu Zayd, Voice of an Exile: 174-5).

Sehingga tidak aneh, jika Abu Zayd lalu menggugat pengharaman homoseksual dan mengecam keras orang yang masih menganggapnya sebagai prilaku menyimpang (voice. hal 89). Karena menurutnya, haramnya homoseksual lebih karena konteks lokalitas budaya. Sehingga, di bukunya yang lain, al-Imam al-Syafi‘i wa Ta’sis al-Aidiyulujiyyah al-Wasathiyyah, dia menyeru umat Islam untuk meninggalkan Al-Quran dan Hadits, karena dianggapnya telah memasung kebebasan akal manusia (hal.146)

Tidak puas menghujat Al-Quran, Abu Zayd juga menghujat para ulama yang menjunjung tinggi kewahyuan Al-Quran. Di antara ulama yang dijadikan sasaran hujatannya itu adalah Imam Syafi’i. Beliau dituduh sebagai ulama oportunis yang suka bekerjasama dengan penguasa demi mendapatkan dunia. Beliau juga dituduh telah mengangkat kedudukan hadits, sehingga menjadi kitab nomor dua setelah Al-Quran di mata kaum Muslimin. Lebih dari itu, Imam Syafi’i juga dituduh menyebarkan hegemoni suku Quraisy atas suku-suku Arab lainnya dalam agama Islam, terkait dengan pandangan beliau tentang bahasa Arab Al-Quran.

Dengan keberanian Abu Zayd dalam menghujat Al-Quran dan Imam Syafii, jangan heran, jika kaum liberal di Indonesia pun menyambut pendapat Abu Zayd dengan gegap gempita dan menganggapnya sebagai tokoh hebat. Selain di ruang-ruang kuliah di bangku UIN/IAIN/STAIN dan sebagainya, para penganut dan pemuja Abu Zayd pun sudah berani secara terbuka menghujat Al-Quran melalui media massa. Koran Tempo, (4/5/2007) menurunkan sebuah artikel berjudul ”Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah”, yang memaparkan bahwa Al-Quran adalah karya bersama antara Allah, Roh Kudus dan Muhammad.

Sebelumnya, telah berjubel artikel, buku, makalah seminar dan sebagainya yang cenderung menghujat Al-Quran. Ternyata jika diteliti, ujung-ujungnya, yang dijadikan rujukan para penghujat Al-Quran itu adalah Abu Zayd. Bahkan, saat Abu Zayd berkunjung ke Indonesia, di antara aktivis liberal di Indonesia, ada yang begitu memujanya, sampai-sampai menuliskan kekagumannya tentang selera makan Abu Zayd dan cara memilih toilet. (Lihat, buku ”Al-Quran Dihujat”, hal 96). Sebuah alasan yang tidak seharusnya dilakukan oleh kalangan yang mengidentitaskan dirinya dengan sikap rasional dan keterbukaan.

Bahaya terbesar dari penghujatan Al-Quran non-fisik adalah menyesatkan akal pikiran umat Islam yang hendak kembali pada ajaran Al-Quran dan Hadits secara benar. Sebab konsep wahyu Al-Quran yang bersifat final dan universal untuk segala tempat dan zaman akan digeser dengan konsep evolusi Darwin. Dengan itu, kebenaran Al-Quran hanya bersifat temporal dan lokal, khusus untuk suatu masa, bangsa dan tempat tertentu. Begitu juga, hukum-hukum Islam akan dinilai sebagai hukum yang bersifat temporal dan spatial, hanya berlaku untuk kurun waktu dan tempat tertentu. Maka, mereka rajin membuat perbedaan, bahwa ajaran dan hukum-hukum Islam harus ditinjau ulang sesuai dengan perkembangan zaman.

Abu Zayd juga seorang hermeneut, yaitu pengguna hermeneutika untuk menafsirkan Al-Quran. Metodologi tafsir Al-Quran yang telah dikembangkan oleh para ulama berwibawa yang memperhatikan segala aspek dalam memahami Al-Quran digusur dengan metodologi hermeneutika produk Yahudi dan Kristen. Padahal, metode tafsir Al-Quran jauh lebih ilmiah, dibanding teori interpretasi hermeneutika yang tengah dikembangkan neo-orientalis di berbagai perguruan tinggi di Indonesia saat ini. Inilah sesungguhnya salah satu tantangan kontemporer yang terbesar yang dihadapi umat Islam Indonesia dewasa ini.

Umat Islam saat ini memerlukan puluhan ribu hujjatul Islam, syeikul Islam dan generasi Al-Quran yang memperjuangkan ajaran Islam secara kafah dalam menghadapi perongrongan global akidah dan syariat Islam. Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, dalam bab tanda-tanda ulama baik dan ulama jahat, Imam Ghazali dalam bukunya, Ihya ’Ulumiddin dan Abu Thalib al-Makki, dalam bukunya, Qut al-Qulub, menjelaskan ragam golongan manusia dengan menukil pendapat Al-Khalil ibn Ahmad yang mengatakan:

"Manusia itu empat golongan: 1) orang yang tahu, sedang dirinya tahu (menyadari) bahwa dirinya tahu, dia itulah si cerdik pandai ('alim), maka ikutilah dia. 2) orang yang tahu, sedang dirinya tidak tahu (tidak menyadari) kalau dirinya tahu, dia itu ibarat orang yang tidur, maka bangunkanlah ia. 3) orang yang tidak tahu, sedangkan dia tahu bahwa dirinya tidak tahu, dialah si pencari pentunjuk (mustarsyid), maka berilah dia petunjuk (bimbingan). 4) orang yang tidak tahu, sedangkan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, itulah orang jahil, maka tolaklah (hindarilah, abaikanlah, atau sangkallah) ia.

Mengembalikan kejayaan Islam, harus dimulai dari pembangunan budaya ilmu. Adalah sangat celaka jika ilmu-ilmu agama telah dirusak oleh orang-orang yang menduduki posisi-posisi terhormat sebagai dosen-dosen bidang Al-Quran di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam. Kita patut meratapi nasib mahasiswa-mahasiswa Islam yang kini menimba ilmu-ilmu keislaman di berbagai kampus berlabel Islam, karena dipaksa mengikuti pemikiran-pemikiran yang merusak keyakinan mereka sebagai Muslim. Al-Quran yang dipahami oleh umat Islam sebagai wahyu Allah yang suci dihujat oleh agen-agen neo-orientalis seperti Abu Zayd dan para anak buahnya di Indonesia. Sementara itu, pemerintah dan pimpinan kampus mendiamkan saja masalah ini.

Maka, kita tidak perlu heran, jika setiap tahun ribuan orang belajar di fakultas ushuluddin dan fakultas syariah, tetapi justru dari situ pula muncul sejumlah orang yang aktif menolak aqidah dan syariah Islam. Dalam bukunya ini, Henri Shalahuddin telah membuka mata kita akan satu tantangan yang sangat besar yang dihadapi oleh umat Islam. Dia pun memberikan jawaban-jawaban yang jitu yang menunjukkan dimana kelemahan pendapat Abu Zayd dan pemujanya di lingkungan UIN/IAIN saat ini. Semoga buku ini memberi manfaat besar dalam pengembangan studi pemikiran dan peradaban Islam di Indonesia. Juga, semoga para pemuja Abu Zayd bertobat dari kekeliruannya dan menghentikan aksi-aksinya dalam menghujat Al-Quran. Tugas kita hanyalah mengingatkan. Masing-masing kita bertanggung jawab atas amal kita masing-masing. [Depok, 11 Mei 2007/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Minggu, 24 Juni 2007

Kunci Rezeki

Kunci Rezeki

Oleh : Wiwik Ariyani

''Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allahlah yang akan memberi rezekinya.'' (QS Huud [11]: 6).

Ayat di atas menunjukkan salah satu janji Allah SWT, sekecil apa pun makhluk hidup yang berada di muka bumi ini, Allah SWT akan memberikan rezekinya. Apalagi terhadap manusia yang merupakan makhluk termulia di antara makhluk yang lainnya. Malah, binatang melata dan segala macam yang berada di muka bumi ini, sengaja diciptakan-Nya untuk kepentingan manusia.

Dengan kata lain, segala macam yang ada di muka bumi ini merupakan pintu rezeki. Manusia hanya tinggal mencari kunci pintu-pintu tersebut. Selain tentunya dengan ilmu dan usaha, Allah SWT juga memberikan kunci-kunci khusus untuk memperlancar membukanya.

Kunci-kunci tersebut di antaranya, pertama, gemar menolong orang-orang lemah baik dalam bentuk fisik ataupun materi. Rasulullah SAW bersabda, ''Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kalian.'' (HR Bukhari).

Kedua, gemar mendermakan harta. Firman Allah SWT, ''Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.'' (QS Saba`[34]: 39). Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, apa pun yang diinfakkan di dalam hal yang diridhai Allah SWT, maka Allah SWT akan mengantinya di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.

Ketiga, gemar bersilaturahim. Nabi SAW bersabda, ''Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu, engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturahim itu akan menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta, dan memperpanjang umur.'' (HR Ahmad).

Keempat, tawakal kepada Allah SWT terhadap setiap apa yang telah kita usahakan dalam mencari rezeki. ''Seandainya kalian mau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pasti Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rezeki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.'' (HR Ahmad, at-Tirmidzi). Dengan menggunakan kunci-kunci ini, insya Allah kita akan semakin lancar dalam mendapatkan rezeki-Nya. Wallahu a'lam bi ash-shawa